DaerahLampung Timur

Program Nasional, Menu MBG SPPG Srigading Dipertanyakan Kelayakan Gizinya?

×

Program Nasional, Menu MBG SPPG Srigading Dipertanyakan Kelayakan Gizinya?

Sebarkan artikel ini

Lampung Timur — Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disalurkan SPPG Srigading, Rabu (4/3/2026), menuai tanda tanya dari sejumlah orang tua siswa penerima (identitas meminta dirahasiakan). Paket yang diterima siswa hanya berisi dua lembar roti tawar, satu lembar keju slice, sebungkus kacang, dan dua buah jeruk.

Secara angka, label informasi gizi mencantumkan energi 474,7 kkal dan protein 19,6 gram. Di atas kertas, angka ini terlihat mencukupi sebagian kebutuhan harian anak usia sekolah dasar.
Namun pertanyaannya: apakah sekadar memenuhi angka sudah cukup untuk menyandang label “bergizi”?

Program MBG sejak awal digagas untuk memastikan anak-anak mendapatkan asupan seimbang: karbohidrat, protein hewani, protein nabati, lemak sehat, vitamin, mineral, dan serat. Fakta di lapangan menunjukkan: Tidak ada lauk hewani seperti telur, ayam, atau ikan.

Keju slice menjadi satu-satunya sumber protein hewani dalam jumlah terbatas.
Tidak terdapat sayuran sama sekali.
Menu lebih menyerupai paket camilan dibanding makan utama.

Jika ini dikategorikan sebagai makan utama, maka komposisinya tergolong minimalis. Jika hanya makanan selingan, publik berhak tahu: apakah MBG di Srigading memang dirancang sebagai snack, bukan santapan utama?

Nilai nominal dalam label menunjukkan total sekitar Rp10.500. Secara harga, angka tersebut masuk dalam kisaran standar MBG. Namun kelayakan program publik tidak semata-mata diukur dari kecocokan anggaran.

Yang menjadi sorotan publik:
Apakah kualitas protein cukup optimal untuk mendukung tumbuh kembang?

Apakah variasi menu memenuhi prinsip gizi seimbang?

Apakah perencanaan menu melibatkan kajian ahli gizi secara komprehensif?

Dalam kebijakan publik, efisiensi anggaran tidak boleh mengorbankan kualitas nutrisi. Terlebih program ini menyasar anak-anak usia sekolah dasar, fase emas pertumbuhan fisik dan kognitif.

Program MBG bukan sekadar distribusi makanan. Ini adalah investasi jangka panjang terhadap kualitas generasi muda.
Di tengah polemik izin operasional, standar higienitas, hingga pengawasan di sejumlah SPPG lain di Lampung Timur, publik tentu berharap kualitas menu tidak menjadi titik lemah berikutnya.

Jika standar minimal sudah terpenuhi, maka pertanyaan berikutnya adalah:
apakah ini sekadar standar minimal, atau memang standar yang dianggap cukup untuk anak-anak kita?

Sementara itu, Agus Priyadi maupun Eko Yuwono selaku pihak SPPG Srigading dihubungi melalui pesan WhatsApp untuk konfirmasi terkait menu yang disalurkan pada Rabu, 4 Maret 2026, belum memberikan respons hingga berita ini diterbitkan.

Program yang menyasar masa depan bangsa seharusnya tidak berjalan di batas bawah kelayakan. Evaluasi menyeluruh menjadi penting, agar “Makan Bergizi Gratis” tidak berhenti pada slogan, melainkan benar-benar menghadirkan kualitas gizi yang layak, bermutu, dan bertanggung jawab. (Rusman Ali)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *