Lampung Timur – Musibah kebakaran yang melanda rumah sekaligus tempat belajar mengaji milik Ustadz Ahmad Fathoni di Dusun 12, Desa Sribawono, Kecamatan Bandar Sribawono, Jumat (30/5/2026), meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan puluhan santri. Namun di tengah puing-puing bangunan yang hangus terbakar, masyarakat justru menyaksikan sebuah kisah penuh ketulusan yang menggetarkan hati: seorang anak yang memilih menghadiahkan kesempatan umrah untuk ibu tercintanya sebagai bentuk bakti dan rasa syukur atas nikmat Allah SWT.
Musibah yang terjadi sekitar pukul 13.20 WIB tersebut menghanguskan rumah sekaligus TPQ Darul Qur’an yang selama ini menjadi pusat kegiatan pendidikan Al-Qur’an bagi lebih dari 50 santri. Kabar duka itu kemudian menyebar luas melalui media sosial hingga sampai kepada Danang Setya, Owner AWater dan HS Wilayah Sumatera.
Informasi tersebut diterima melalui kakak kandungnya, Hj. Endang, yang saat kejadian berada di wilayah Sribawono. Pada malam harinya, Danang Setya melakukan komunikasi langsung melalui video conference dengan Ustadz Ahmad Fathoni dan keluarganya yang difasilitasi oleh Kepala Desa Nibung dan Kepala Desa Sribawono.
Dalam kesempatan itu, Danang menyampaikan rasa empati dan keprihatinannya atas musibah yang dialami keluarga Ustadz Ahmad Fathoni.
“Saya turut prihatin atas musibah ini. Semoga Allah memberikan kekuatan dan mengganti dengan yang lebih baik,” ujar Danang.
Sebagai bentuk kepedulian, ia menyerahkan bantuan uang tunai sebesar Rp20 juta serta satu paket umrah gratis untuk Ustadz Ahmad Fathoni.
Mendengar kabar tersebut, Ustadz Ahmad Fathoni tak mampu menyembunyikan rasa harunya. Dengan suara bergetar, ia mengucapkan syukur sembari meneteskan air mata.
“Ini semua dari Allah. Di balik setiap musibah pasti ada hikmah yang Allah SWT siapkan,” tutur Danang menenangkan.
Keesokan harinya, Sabtu (31/5/2026), Direktur AWater Hj. Endang bersama Kepala Pabrik Ridho dan didampingi Kepala Desa Nibung datang langsung ke lokasi untuk menyerahkan bantuan kepada keluarga korban.
Di tengah suasana gotong royong warga membersihkan puing-puing kebakaran, sebuah momen mengharukan terjadi dan membuat seluruh yang hadir larut dalam haru.
Dengan mata berkaca-kaca, Ustadz Ahmad Fathoni menyampaikan sebuah permohonan yang tidak pernah diduga sebelumnya.
“Sebelumnya saya mohon maaf, Pak, Bu. Saya sejak dulu memiliki azzam, jika suatu hari Allah memberi kesempatan ke Tanah Suci, saya ingin menghadiahkannya kepada ibu kandung saya. Apakah saya diizinkan menyerahkan hadiah umrah ini untuk beliau?” ucapnya lirih.
Permohonan tersebut langsung mendapat sambutan hangat dari Hj. Endang.
“Pak Ustadz, Pak Danang sudah menyerahkan sepenuhnya kepada sampean. Itu sudah menjadi hak panjenengan. Jika ingin diberikan kepada ibu, Insya Allah justru menjadi lebih berkah,” ujarnya.
Tak lama kemudian, tangis Ustadz Ahmad Fathoni pecah. Di hadapan warga, perangkat desa, relawan, dan keluarga yang hadir, ia bersimpuh dan sungkem di kaki sang ibu, Ibu Fatimah.
Suasana berubah menjadi lautan haru. Banyak mata yang berkaca-kaca menyaksikan pemandangan yang begitu tulus dan menyentuh.
“Saya tidak akan pernah bisa membalas jasa ibu saya. Beliau yang mengandung, melahirkan, membesarkan, dan selalu mendoakan saya. Saya pernah berjanji dalam hati, jika Allah memberi kesempatan ke Tanah Suci, maka yang pertama saya ingat adalah ibu saya,” tutur Ustadz Ahmad Fathoni.
Menurutnya, sang ibu merupakan sosok yang selama ini tak pernah lelah memberikan doa dan restu bagi anak-anaknya.
“Ibu saya masih sehat dan masih bersama saya. Saya ingin beliau melihat Ka’bah, berziarah ke makam Rasulullah SAW, dan merasakan nikmatnya menjadi tamu Allah. Semoga hadiah umrah ini menjadi jalan terwujudnya cita-cita beliau,” lanjutnya.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu keluarganya melewati musibah tersebut.
“Mudah-mudahan Allah membalas semua kebaikan Pak Danang, Ibu Hj. Endang, keluarga besar perusahaan, pemerintah desa, dan seluruh masyarakat yang telah membantu kami. Semoga menjadi keberkahan bagi kita semua,” ujarnya.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap ujian yang Allah SWT hadirkan, selalu tersimpan hikmah yang luar biasa. Di tengah kehilangan harta benda akibat kebakaran, masyarakat Sribawono justru menyaksikan sebuah pelajaran berharga tentang cinta, keikhlasan, dan bakti seorang anak kepada ibunya—sebuah nilai yang tetap berdiri kokoh, bahkan ketika rumah dan bangunan telah menjadi abu. (*)












