DaerahLampung Timur

Puting Beliung Hantam Lampung Timur, 21 Rumah dan Satu Sekolah Rusak

×

Puting Beliung Hantam Lampung Timur, 21 Rumah dan Satu Sekolah Rusak

Sebarkan artikel ini

Lampung Timur — Bencana angin puting beliung yang menerjang Kecamatan Sukadana dan Marga Tiga, Kabupaten Lampung Timur, Sabtu malam (17/1/2026), menyisakan kehancuran serius. Puluhan rumah warga rusak, satu bangunan taman kanak-kanak hancur parah. Di balik bencana alam ini, muncul pertanyaan mendasar: sejauh mana kesiapan mitigasi bencana yang telah disiapkan pemerintah daerah?

Berdasarkan data lapangan, puting beliung melanda Desa Putra Aji, Kecamatan Sukadana, dan Desa Surya Mataram, Kecamatan Marga Tiga. Total 21 rumah warga dan satu sarana pendidikan terdampak.

Rinciannya, di Desa Putra Aji, satu rumah milik Sudarmaji mengalami kerusakan berat. Sementara di Desa Surya Mataram, 20 rumah warga terdampak, dengan 10 rumah rusak berat, 10 rumah rusak ringan, serta satu bangunan TK mengalami kerusakan parah.

Ali Sodikin, warga Desa Surya Mataram, mengungkapkan bahwa angin kencang datang secara tiba-tiba dan berlangsung singkat, namun berdampak sangat destruktif.

“Angin datang mendadak, sangat kencang. Tidak ada waktu menyelamatkan barang apa pun,” ujar Ali, Minggu (18/1/2026).

Ia mengakui bahwa BPBD Lampung Timur bergerak cepat dalam penanganan pascabencana. Namun menurutnya, respons darurat tidak cukup untuk menjawab persoalan yang lebih mendasar.

Ali Sodikin menilai, persoalan utama bukan hanya penanganan setelah kejadian, melainkan lemahnya upaya pencegahan dan mitigasi bencana.

“Penanganan setelah kejadian memang ada. Tapi yang perlu dipertanyakan, apakah sistem peringatan dini, edukasi kebencanaan, dan kesiapan bangunan publik sudah benar-benar disiapkan?” tegasnya.

Kerusakan fasilitas pendidikan, menurutnya, menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah, terutama terkait standar keamanan bangunan publik di wilayah rawan bencana.

“Kalau bangunan sekolah saja tidak dirancang berbasis mitigasi bencana, maka kerugian ini bukan semata akibat cuaca ekstrem, tapi juga akibat kebijakan yang abai,” katanya.

Ali mengingatkan bahwa fenomena cuaca ekstrem di Lampung Timur bukan kejadian baru. Tanpa evaluasi menyeluruh, transparansi kebijakan, serta peningkatan kesiapsiagaan masyarakat, risiko bencana serupa akan terus berulang.

“Kalau tidak ada perubahan nyata, ini hanya akan menjadi siklus tahunan yang terus memakan korban,” pungkasnya.

Peristiwa ini menambah daftar panjang bencana hidrometeorologi di Lampung Timur. Publik kini menunggu langkah konkret pemerintah daerah:

apakah hanya sebatas penanganan darurat, atau benar-benar melakukan evaluasi kebijakan mitigasi bencana, termasuk audit bangunan publik, sistem peringatan dini, dan edukasi kebencanaan yang selama ini kerap luput dari perhatian.
(Rusman Ali)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *