PANARAGAN — Bupati Tulang Bawang Barat (Tubaba), Ir. Novriwan Jaya, S.P., didampingi Ketua TP-PKK Kabupaten Tubaba, Ny. Novianti Novriwan, meninjau Pilot Project K3W (Kebun, Kolam, Kandang, dan Wisata) di Tiyuh Totokaton, Kecamatan Batu Putih, Rabu (26/8/2026).
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Tubaba mendorong pengembangan pertanian terintegrasi dan berkelanjutan, sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan lahan untuk menghasilkan komoditas pangan dan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Di lokasi tersebut, Bupati melihat langsung pengembangan berbagai sektor dalam satu kawasan, mulai dari tanaman pangan dan hortikultura, perikanan, peternakan hingga potensi wisata dan edukasi pertanian.
Pilot Project K3W yang dikelola masyarakat setempat memanfaatkan lahan sekitar 2.300 meter persegi atau kurang dari seperempat hektare. Kendati terbatas, lahan tersebut dikembangkan dengan mengintegrasikan kebun, kolam dan kandang dalam satu sistem yang saling mendukung.
Pengelola K3W, Yanto, mengatakan konsep tersebut diterapkan untuk memaksimalkan setiap bagian lahan agar memiliki manfaat secara berkelanjutan.
“Di lokasi ini kami memanfaatkan lahan kurang lebih 2.300 meter persegi. Dengan lahan yang terbatas ini, kami berupaya menerapkan konsep pertanian terpadu dengan memadukan peternakan, perikanan, dan pertanian dalam satu kawasan,” jelasnya.
Pada sektor peternakan, tersedia kandang kambing, domba, sapi dan ayam. Sementara pengembangan itik masih dilakukan secara bertahap dan saat ini terdapat sekitar tiga ekor.
Sektor perikanan dikembangkan melalui kolam yang digunakan untuk budidaya lele, gurami dan nila. Kolam tersebut sekaligus berfungsi sebagai tandon air yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan penyiraman tanaman, terutama saat musim kemarau.
“Awalnya tujuan utama kolam ini sebagai tandon air. Tetapi kemudian kami manfaatkan juga untuk budidaya ikan. Kami memelihara lele, gurami dan nila dengan usia panen yang berbeda-beda, sehingga harapannya setiap beberapa bulan bisa dilakukan panen secara bergantian,” ujarnya.
Sementara di sektor pertanian, kawasan tersebut ditanami berbagai komoditas, seperti kangkung, bayam, sawi, katuk, terong, timun, gambas, pare dan cabai. Sejumlah tanaman buah juga dikembangkan menggunakan planter bag atau pot untuk menyiasati keterbatasan lahan.
Konsep pertanian terpadu juga diterapkan melalui pemanfaatan talas atau bentul. Daun dan batangnya dimanfaatkan sebagai pakan tambahan ikan, sementara air kolam yang mengandung unsur organik digunakan kembali untuk menyiram tanaman.
Selain sayuran dan perikanan, pengelola juga berupaya memenuhi kebutuhan pangan pokok melalui budidaya padi dengan sejumlah metode, antara lain penanaman menggunakan ember, sistem minapadi dengan ikan lele serta pembuatan lahan sawah buatan.
“Bagi kami, keterbatasan lahan bukan menjadi alasan untuk tidak bisa menghasilkan. Justru dari lahan yang tidak sampai seperempat hektare ini kami belajar bagaimana mengoptimalkan setiap ruang agar dapat menghasilkan pangan dan pendapatan,” ungkapnya.
Petani Apresiasi Dukungan Alsintan
Ketua Kelompok Tani Tiyuh Totokaton, Imam Tohari, menyampaikan apresiasi atas dukungan Pemerintah Kabupaten Tubaba terhadap sektor pertanian, khususnya bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan).
Menurutnya, bantuan tersebut membantu petani mempercepat pengolahan lahan, mengurangi beban biaya dan tenaga, serta meningkatkan efisiensi kegiatan pertanian.
Pada 2025, kelompok tani di Tiyuh Totokaton menerima bantuan alsintan PL-4. Selain itu, terdapat bantuan PL-4 untuk kelompok tani lainnya serta dua unit traktor yang diperuntukkan bagi kelompok tani setempat.
Di wilayah tersebut terdapat sekitar 61 hektare sawah tadah hujan. Dari luasan itu, sekitar 31 hektare pada 2025 mendapat program Optimalisasi Lahan (OPLAH).
Namun, kelompok tani masih menghadapi kendala ketersediaan bahan bakar minyak, khususnya solar untuk operasional alsintan.
Saat ini terdapat tiga unit traktor roda empat (TR-4), terdiri atas dua unit milik kelompok dan satu unit milik perorangan. Selain itu, terdapat empat unit traktor roda dua (TR-2) milik kelompok dan sekitar delapan unit milik perorangan.
“Seluruh alsintan tersebut membutuhkan solar untuk dapat beroperasi. Sementara itu, kami masih mengalami kesulitan untuk mendapatkan BBM jenis solar di wilayah Tiyuh Totokaton,” ungkap Imam.
Kelompok tani berharap pemerintah daerah bersama instansi terkait dapat mencari solusi untuk memudahkan akses bahan bakar bagi petani, termasuk akses solar subsidi sesuai ketentuan dan kebutuhan kegiatan pertanian.
Bupati: Jadi Inspirasi bagi Tiyuh Lain
Bupati Novriwan Jaya menilai Pilot Project K3W di Totokaton menjadi contoh pemanfaatan lahan secara optimal melalui sistem pertanian terintegrasi.
Menurutnya, konsep tersebut tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga menghubungkan kebun, kolam, kandang serta potensi wisata dan edukasi dalam satu kawasan.
“Kita melihat langsung bagaimana lahan yang tidak begitu luas dapat dimanfaatkan secara maksimal. Ada pertanian, perikanan, peternakan, bahkan memiliki potensi menjadi sarana edukasi dan wisata. Ini adalah contoh yang sangat baik dan patut menjadi inspirasi bagi masyarakat serta tiyuh-tiyuh lainnya di Kabupaten Tulang Bawang Barat,” ujar Novriwan.
Ia menekankan bahwa pertanian berkelanjutan harus memperhatikan efisiensi pemanfaatan lahan sekaligus kelestarian lingkungan.
Menurutnya, keterbatasan lahan bukan alasan untuk berhenti menghasilkan pangan. Kreativitas, kerja keras dan kemauan untuk terus belajar menjadi bagian penting dalam mengembangkan pertanian terpadu.
“Yang kita lihat hari ini adalah bagaimana sistem pertanian terintegrasi dan berkelanjutan itu benar-benar diterapkan. Dengan lahan yang tidak sampai seperempat hektare, ternyata bisa ada tanaman pangan, sayuran, buah-buahan, ikan dan ternak. Artinya, kalau kita punya kemauan dan mau terus belajar, lahan yang terbatas pun bisa memberikan hasil yang besar,” katanya.
Novriwan berharap pola yang dikembangkan Yanto bersama kelompok tani di Totokaton dapat ditiru dan dikembangkan di wilayah lain sesuai potensi masing-masing.
“Harapan saya, Pak Yanto bisa melahirkan Yanto-Yanto yang lain. Artinya, muncul petani-petani yang mampu mengembangkan sistem pertanian terintegrasi seperti ini. Karena sistem seperti ini tidak hanya membutuhkan lahan, tetapi juga kemauan, kerja keras, kreativitas dan proses belajar yang terus-menerus,” ujarnya.
Pemkab Tubaba berharap pengembangan Pilot Project K3W dapat diperluas sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan produktivitas lahan, membuka peluang ekonomi masyarakat, serta menjadi sarana edukasi bagi generasi muda mengenai pertanian, peternakan dan perikanan yang modern dan berkelanjutan.
Kegiatan tersebut turut dihadiri jajaran Pemkab Tubaba, para camat, Kepalo Tiyuh, tokoh masyarakat, kelompok tani, TP-PKK, Kelompok Wanita Tani (KWT), serta masyarakat Tiyuh Totokaton.












