Kota Bandar Lampung

Immanuel Ebenezer Noel Penyelamat yang Tumbang, Dari Pembela Buruh Jatuh Ke Pelukan KPK

×

Immanuel Ebenezer Noel Penyelamat yang Tumbang, Dari Pembela Buruh Jatuh Ke Pelukan KPK

Sebarkan artikel ini

Bandarlampung – Sebuah luka dalam membekas di negeri yang selalu menyanjung demokrasi. Topeng penguasa satu per satu mulai terlepas, bukan oleh badai politik yang jauh, tapi oleh teriakan keras proletariat yang selama ini tersisih. Mata dan telinga rakyat seantero negeri menatap kagum sekaligus ngeri, menyaksikan wajah heroik yang dulu menjerat harapan kini runtuh di hadapan hukum.

Hero penyelamat itu bernama Immanuel Ebenezer Noel, Wakil Menteri Ketenagakerjaan. Ia, yang semula dielu-elukan sebagai pembela buruh dan simbol moral anti korupsi, kini jatuh dalam pelukan KPK mengunakan Jas orange sebuah Jas yang sangat mahal. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjeratnya bersama 10 kroni, dalam operasi tangkap tangan (OTT) terkait dugaan pemerasan sertifikasi K3.

Fakta berbicara lantang, uang sebesar Rp3 miliar berpindah ke tangan Noel, kerugian negara menggelembung hingga Rp81 miliar dari sekitar 80 perusahaan, dan 22 kendaraan mewah kini menjadi barang bukti. Kroni-kroni yang ikut terseret bukan hanya nama kecil, pejabat di Ditjen Binwasnaker & K3, sub koordinator, hingga pihak swasta yang menjadi perantara kini berdiri di hadapan penyidik.

Melihat rangkaian fakta ini, kini mata dipaksa menatap tajam, pikiran pun mengoyak untuk menggali lebih dalam. Ingatan pun dibawa ke lembar-lembar teori lama, karya para pemikir yang sejak lama mengingatkan sebuah kekuasaan selalu punya wajah yang berlapis, dan di balik wajah humanis yang tampak harum sering tersembunyi ambisi bau tak sedap.

Machiavelli, Karl Marx, dan Antonio Gramsci

Machiavelli di awal abad ke -16 menulis tentang wajah ganda sang penguasa wajah yang tampak heroik di depan rakyat, tetapi di belakang siap menyelamatkan diri sendiri. Noel, yang di awal jabatannya menunjukan sebuah profil menakjubkan, kini malah menunjukkan sebuah profil yang menyedihkan. Janji membela buruh dan memperkuat keselamatan kerja ternyata hanya menjadi pintu masuk bagi praktik oportunistik.

Kerangka berpikir Karl Marx membawa kita lebih dalam ia menyoroti bagaimana kekuasaan dan ekonomi berjalan beriringan. Ketika simbol relawan, gerakan pro-rakyat, dan retorika moral dijadikan alat untuk memperkaya segelintir elite, suara buruh tak lebih dari gema kosong. Mereka bekerja keras, tetapi keadilan dan haknya diabaikan, sementara elite menikmati aliran dana dan kemewahan.

Di sisi lain pemikiran Antonio Gramsci yang memberi kesadaran penuh adalah sebuah kekuasaan tak hanya bertumpu pada senjata atau uang, tapi juga pada hegemoni kemampuan membentuk kesadaran publik dan memanipulasi simbol persis seperti fakta Noel dan kroninya menjadi cerminan bagaimana elite politik dan birokrat dapat menggunakan simbol perlawanan rakyat sebagai alat mempertahankan dan memperluas kekuasaan mereka. Di balik jargon moral dan aksi relawan, ada strategi penguasaan wacana yang menjadikan publik tak sadar bahwa mereka ternyata sedang diarahkan untuk melayani kepentingan segelintir orang.

Noel dan kroninya menjadi ilustrasi nyata dari teori ke 3 tokoh ini, jabatan publik dijadikan pasar gelap, gerakan relawan dijadikan kendaraan transaksi elite.

Topeng-topeng jatuh, dan fakta menatap kita telanjang. Noel dan sepuluh kroninya bukan sekadar kasus individu, mereka adalah cermin dari demokrasi yang luka. Presiden tampak gagal memilih pembantu berintegritas, partai gagal mencetak kader bermoral, dan relawan, yang dulu simbol moral, berubah menjadi broker kekuasaan. (Msr)