Kota Bandar Lampung

Bawa Data 2025, Satrio Setiawan Maju Ketua PMII Bandar Lampung : Siap Guncang Isu Sosial Lampung

×

Bawa Data 2025, Satrio Setiawan Maju Ketua PMII Bandar Lampung : Siap Guncang Isu Sosial Lampung

Sebarkan artikel ini

Bandar Lampung – Riuh dinamika politik internal PMII Bandar Lampung mulai terasa. Menjelang Konferensi Cabang (Konfercab) ke-XXXVIII, satu nama mencuri perhatian: Satrio Setiawan. Kader muda ini muncul dengan langkah berani, mendeklarasikan diri maju sebagai calon Ketua PMII Cabang Bandar Lampung periode 2025–2026, membawa visi besar dan tantangan yang tak kecil, Selasa (5/8/2025)

Deklarasi Satrio bukan sekadar ambisi pribadi. Langkah ini memicu diskusi serius di kalangan kader tentang arah masa depan organisasi. Lahir di Bandar Lampung pada 10 September 2001, Satrio menapaki jalur panjang di dunia pergerakan mahasiswa: Ketua Rayon PMII Ushuluddin dan Studi Agama (2022–2023), Ketua Senat Mahasiswa Fakultas UIN Raden Intan Lampung (2021), hingga Sekretaris Jenderal Dewan Mahasiswa Lampung (2024). Saat ini ia aktif di Biro Kaderisasi PMII Cabang Bandar Lampung.

Dalam keterangannya, Satrio menegaskan visi reorientasi PMII untuk mempercepat akselerasi organisasi melalui gerakan yang harmonis, kolaboratif, dan terarah. “PMII harus berdiri di garda depan perubahan, menjaga kekompakan internal sekaligus membuka pintu kolaborasi dengan semua pihak,” ujarnya.

Misi yang ia usung mencakup penguatan peran strategis kader, pembentukan lembaga semi otonom untuk pengembangan kompetensi, peningkatan transparansi pengelolaan organisasi, serta pemanfaatan teknologi informasi demi efektivitas kerja.

ia juga melontarkan pandangan yang memotret persoalan Lampung dengan data terkini. “BPS mencatat kemiskinan Lampung pada Maret 2025 masih di kisaran 10 persen. Di sektor pendidikan, angka partisipasi sekolah menengah di beberapa kabupaten masih di bawah target nasional. Tingkat literasi kita juga belum merata, dan di sisi lain kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak naik hampir 20 persen dalam dua tahun terakhir,” tegasnya.

Ia juga menyinggung ancaman terhadap budaya lokal yang kian tergerus, serta konflik agraria yang masih menyisakan luka panjang di beberapa wilayah seperti Register 45 dan Mesuji. “Isu-isu ini tidak bisa dibiarkan menjadi headline tanpa solusi. PMII harus menjadi penghubung antara data, kebijakan, dan aksi nyata. Mahasiswa punya posisi strategis untuk riset, advokasi, dan menggerakkan masyarakat,” tambahnya.

Sumber internal PMII menyebut, kekuatan Satrio ada pada jejaring lintas komisariat dan kedekatan dengan alumni. Namun, ia juga harus berhadapan dengan faksi-faksi internal yang memiliki kepentingan berbeda menjelang pemilihan.

Konfercab ke-XXXVIII diperkirakan menjadi ajang adu strategi antarcalon, dengan isu penguatan kaderisasi, transparansi organisasi, dan pengaruh eksternal sebagai fokus utama. (Msr)